Rabu, 03 Oktober 2018

Menjemput generasi emas 2045


Menjemput generasi emas 2045
B
ernas.Id “Apa kabar, jeng?”
“Alhamdulillah apik, mbak!”
“Sudah menikah? Eh, berapa anak sampean sekarang?”
“Alhamdulillah, sudah mbak, anakku empat, yang besar baru kelas dua es em pe!”
“Wah…muantab, mbak… anak-anak sampean dibekali iman dan taqwa yo, persiapan jadi generasi emas nanti?”
                Sekelumit percakapan dua sahabat yang baru saja ketemu sejak berpisah  dua belas tahun silam ketika mereka sama-sama menyelesaiakan studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Reuni angkatan telah melahirkan suatu kerinduan dan cerita yang menarik untuk bisa disimak. Ada banyak hal perubahan yang dapat dilihat, baik dari fisik, usia, pertambahan anggota keluarga, status soasial, dan banyak lagi perubahan yang mendasar, yang terkadang membuat kita pangling dan terpesona.
                Temu alumni ini bukan sekedar pertemuan tanpa makna. Dengan pertemuan ini lahirlah diskusi-diskusi menantang, lahirlah ide-ide segar yang bisa menjadi jembatan penghantar silaturrahim yang dulu terputus oleh ruang dan waktu, kembali terjalin untuk masa depan karir dan keluarga. Bahkan mungkin terjalin kembali hubungan tanpa status oleh sebagian orang, karena sebab akibat ikatan bathin yang dulu pernah terajut.
                Seratus tujuh puluh orang hadir dengan perubahan status sosial yang berbeda-beda, ada yang sudah menjadi pengusaha, pejabat daerah, yang duduk di pemerintahan, dan lain sebagainya. Tetapi ada pula yang menjadi kuli tinta, security, drifer, ibu rumah tangga fenomenal, ibu rumah tangga biasa, pengusaha ketring, petani dan bahkan nelayan tambak yang baru berkarir. Pertemuan ini oleh sebagian besar melahirkan satu ide, membentuk ikatan keluarga alumni dalam mempersiapkan generasi emas ditahun 2045.
Wow, ternyata temu alumni kali ini sungguh sangat berkesan, tatkala salah seorang sahabat mengutarakan pertanyaan, sudah siapkah kita orang tua mengantarkan anak-anak menjemput generasi emas di tahun 2045? Bekal apakah yang akan kita berikan pada anak-anak agar mampu menjadi generasi emas nanti? Karena, jika kita tidak menyiapkannya sejak sekarang, kita tidak akan menyaksikan Indonesia emas di 2045 nanti, kita tidak akan mendapatkan Indonesia jaya di masa yang akan datang, kita hanya akan menyaksikan generasi kita adalah generasi lemah, lesu tanpa darah, tak ada semangat mengangkat kepala, yang ada mereka hanya sebagai generasi yang selalu tertunduk malu dan dipermalukan bangsa lain, dan hanya menjadi kuli bagi bangsa lain. Bagaimana cara kita agar lahir generasi yang akan memimpin bangsa ini baik dari pusat hingga kecamatan, bagaimana pemerintahan kita akan baik jika generasi kita saat ini dirangkul narkoba dan pergaulan bebas, siapa yang akan menguasai pertambangan, perkebunan, hutan dan laut kita, jika generasi kita saat ini tak lagi mau belajar dan hanya menghabiskan waktu dengan games dan komsumerisme? Yuk kita simak bersama tahapan persiapan dalam menyongsong Indonesia emas yang nantinya generasi kitalah yang akan mengisinya.
Tampilah beberapa teman yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan mengusulkan, bahwa paling baik adalah kita bekali generasi dengan pendidikan kepribadian yang mengutamakan proses pengembangan  dan pembentukan diri secara istimror  atau terus menerus (on going formation). Ada lagi yang mengusulkan, bahwa iman dan taqwanya harus tertanam dalam diri sejak dini. Dari teman yang berkecimpung dalam teknologi dan lain-lain pun menyarankan, jangan hanya pribadi dong, kecerdasan intelektualnya, emosinya juga harus diperhatikan, karena ini sumber kreatifitas dan inofasi suatu generasi emas kita.
Semakin larut diskusi itu berlanjut sampai pada proses jalinan ikatan generasi alumni yang akan diupayakan untuk upaya perencanaan beasiswa berprestasi dan beasiswa bagi generasi kreatif dan inofasi abad 21. Harapan demi harapan tertuang dan terucap dalam doa penutup pertemuan, semoga pertemuan ini menjadi awal pergerakan generasi kita menuju jembatan emas 2045.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar