Menjemput generasi
emas 2045
|
B
|
ernas.Id “Apa kabar, jeng?”
“Alhamdulillah apik, mbak!”
“Sudah menikah? Eh, berapa anak
sampean sekarang?”
“Alhamdulillah, sudah mbak,
anakku empat, yang besar baru kelas dua es em pe!”
“Wah…muantab, mbak… anak-anak
sampean dibekali iman dan taqwa yo, persiapan jadi generasi emas nanti?”
Sekelumit
percakapan dua sahabat yang baru saja ketemu sejak berpisah dua belas tahun silam ketika mereka sama-sama
menyelesaiakan studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Reuni
angkatan telah melahirkan suatu kerinduan dan cerita yang menarik untuk bisa
disimak. Ada banyak hal perubahan yang dapat dilihat, baik dari fisik, usia,
pertambahan anggota keluarga, status soasial, dan banyak lagi perubahan yang
mendasar, yang terkadang membuat kita pangling dan terpesona.
Temu
alumni ini bukan sekedar pertemuan tanpa makna. Dengan pertemuan ini lahirlah
diskusi-diskusi menantang, lahirlah ide-ide segar yang bisa menjadi jembatan
penghantar silaturrahim yang dulu terputus oleh ruang dan waktu, kembali
terjalin untuk masa depan karir dan keluarga. Bahkan mungkin terjalin kembali
hubungan tanpa status oleh sebagian orang, karena sebab akibat ikatan bathin
yang dulu pernah terajut.
Seratus
tujuh puluh orang hadir dengan perubahan status sosial yang berbeda-beda, ada
yang sudah menjadi pengusaha, pejabat daerah, yang duduk di pemerintahan, dan
lain sebagainya. Tetapi ada pula yang menjadi kuli tinta, security, drifer, ibu rumah tangga fenomenal, ibu rumah tangga
biasa, pengusaha ketring, petani dan bahkan nelayan tambak yang baru berkarir.
Pertemuan ini oleh sebagian besar melahirkan satu ide, membentuk ikatan
keluarga alumni dalam mempersiapkan generasi emas ditahun 2045.
Wow, ternyata
temu alumni kali ini sungguh sangat berkesan, tatkala salah seorang sahabat
mengutarakan pertanyaan, sudah siapkah kita orang tua mengantarkan anak-anak
menjemput generasi emas di tahun 2045? Bekal apakah yang akan kita berikan pada
anak-anak agar mampu menjadi generasi emas nanti? Karena, jika kita tidak
menyiapkannya sejak sekarang, kita tidak akan menyaksikan Indonesia emas di
2045 nanti, kita tidak akan mendapatkan Indonesia jaya di masa yang akan
datang, kita hanya akan menyaksikan generasi kita adalah generasi lemah, lesu
tanpa darah, tak ada semangat mengangkat kepala, yang ada mereka hanya sebagai
generasi yang selalu tertunduk malu dan dipermalukan bangsa lain, dan hanya
menjadi kuli bagi bangsa lain. Bagaimana cara kita agar lahir generasi yang
akan memimpin bangsa ini baik dari pusat hingga kecamatan, bagaimana
pemerintahan kita akan baik jika generasi kita saat ini dirangkul narkoba dan
pergaulan bebas, siapa yang akan menguasai pertambangan, perkebunan, hutan dan
laut kita, jika generasi kita saat ini tak lagi mau belajar dan hanya
menghabiskan waktu dengan games dan komsumerisme? Yuk kita simak bersama
tahapan persiapan dalam menyongsong Indonesia emas yang nantinya generasi kitalah
yang akan mengisinya.
Tampilah
beberapa teman yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan mengusulkan, bahwa
paling baik adalah kita bekali generasi dengan pendidikan kepribadian yang
mengutamakan proses pengembangan dan
pembentukan diri secara istimror atau terus menerus (on going formation). Ada lagi yang mengusulkan, bahwa iman dan
taqwanya harus tertanam dalam diri sejak dini. Dari teman yang berkecimpung
dalam teknologi dan lain-lain pun menyarankan, jangan hanya pribadi dong,
kecerdasan intelektualnya, emosinya juga harus diperhatikan, karena ini sumber
kreatifitas dan inofasi suatu generasi emas kita.
Semakin larut
diskusi itu berlanjut sampai pada proses jalinan ikatan generasi alumni yang
akan diupayakan untuk upaya perencanaan beasiswa berprestasi dan beasiswa bagi
generasi kreatif dan inofasi abad 21. Harapan demi harapan tertuang dan terucap
dalam doa penutup pertemuan, semoga pertemuan ini menjadi awal pergerakan
generasi kita menuju jembatan emas 2045.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar