Rabu, 03 Oktober 2018

Cerpen; MUTIARA DIKUBANGAN LUMPUR KELAM


MUTIARA DIKUBANGAN LUMPUR KELAM
“Dubrak!!!!”
“Ugh, kenapa ini!”
Aku bingung melihat seorang gadis belia jatuh terduduk lemas dari kursi kelasnya. Sedangkan aku asik memeriksa hasil ulangan anak-anakku. Segera aku beranjak menuju ketempatnya yang kini sudah penuh dikerumuni teman-temannya.
“Kenapa de, kamu sakit?” tanyaku sembari memegang tengkuknya.
Ia hanya menggeleng sambil menundukan wajahnya. Tampak kabut menyelimuti kehidupannya. Aku penasaran, tapi tak bisa memahami apa yang ada dibalik kesenduannya.
“Ibu, Tiara sudah dua hari tidak tidur malam, karena menjaga ibunya di rumah sakit!” Ujar Amirah teman sebangkunya.
“Oh….kalo begitu Tiara, kamu butuh istirahat sayang, mau pulang atau mau istirahat di kelas?”
“Dikelas aja bu, soalnya setelah ini saya harus ke rumah sakit nemenin ibu saya!” Jawabnya dengan suara tersekat.
“Ibumu di rawat di Rumah Sakit mana? Dan sudah berapa lama dirawat, de?”
“Ibu sakit sudah hampir tiga bulan, Rumah Sakitnya pindah-pindah bu, tapi sekarang ada di Rumah Sakit Harapan Bunda.”
“Ruang apa, De?”
“Ruang Irna B, kamar nomor delapan, bu”
“Baiklah, kamu istirahat dulu ya!”
****
Kutelusuri koridor Rumah Sakit Harapan Bunda, sambil berharap yang terbaik buat ibunya Tiara. Nah, itu dia ruangannya, Irna B kamar nomor delapan. Ogh…. Ternyata satu kamar pasiennya ada delapan tempat tidur dan semua terisi penuh. Tatapanku menyapu seisi kamar dan kutemukan sosok yang aku cari, itu dia perempuan yang pernah ikut rapat penerimaan Laporan Pendidikan beberapa bulan yang lalu. Terlihat wajahnya tirus, badannya kurus ringkih. Pakaian yang dikenakannya terlihat longgar besar dari tubuh itu. Kucoba mendekati tempat tidurnya yang berada di sudut kanan kamar itu. Dia menatapku sambil mengernyitkan dahi mencari tahu, dan ia pun terkejut.
            “Ooh….bu guru!” berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Secepatnya aku mencegahnya.
“Jangan bangun bu, kondisi ibu masi lemah, biar saya aja yang mendekat,”
“Tidak apa-apa bu, sudah mendingan, maaf tadi pandangan saya agak kabur, sampai-sampai tak mengenali ibu.” Ujarnya.
“Sendirian, bu?” Tanyaku sembari duduk disamping bangsal tempat tidurnya.
“Ia bu guru, Tiara yang mendampingi saya, saya ga punya keluarga disini, hanya berdua dengan Tiara. Tiara selalu menemani saya selama saya sakit.” Jawabnya dengan suara serak.
“Disini tinggal dimana?”
“Di Kos-kosan Mawar Merah, Kota Baru. Saya sudah sering keluar masuk rumah sakit bu, ini yang kesekian kalinya, saya merasa tak kuat, tapi saya masih memikirkan Tiara anak saya.” Ujarnya sembari menunduk dan sedikit terbatuk-batuk.
“Ayahnya dimana bu? Apakah Tiara tidak punya saudara?”
“Ayahnya sudah hampir dua tahun tidak pernah kembali, kakaknya tugas di Jawa, tetapi saya tidak ingin menyampaikan kabar ini ke mereka, biarlah seperti ini!” Jawabnya dengan suara semakin serak dan terbatuk-batuk.
Melihat kondisinya aku tak dapat bertanya lebih lanjut. Miris rasanya hati ini membayangkan Tiara yang masih belia, masih duduk di bangku es em pe sudah mengalami tekanan hidup yang begitu berat. Tak lama kemudian aku pamit.
“Titip Tiara, Bu Guru. Saya berharap Tiara bisa terjaga dan hidup normal sebagaimana remaja lainnya.” Katanya sambil memegang tanganku dengan linangan air  di sudut matanya.
“Insya Allah, bu. Ibu tenang dan berdoa, segera sembuh agar bisa kembali bersama Tiara lagi.” Jawabku sambil menggenggam erat tangannya.
****
Sore itu, semburat cahaya mega memerah kekuningan, kupacu si hijau motor beet yang selalu menemaniku memburu waktu mengejar asa menyongsong masa depan remaja-remaja yang haus kasih sayang. Kususuri Kota Baru tempat tinggal Tiara, kucari Kos-kosa Mawar Merah dan ternyata, ia berada di lorong sempit, yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, dan cukup untuk satu pejalan kaki. Kumasuki lorong tersebut sembari mengabaikan tatapan-tatapan selidik dari para penghuni kos-kosan yang kulewati.
“Mau kemana bu?” ujar salah seorang yang memberanikan diri bertanya penuh selidik.
“Mau ke Kos-kosan Mawar Merah bu.”
“Mau cari siapa?”
“Mau cari tempat tinggalnya Tiara, bu!”
“Ooh, paling ujung, bu. Tetapi mereka tidak disini, karena ibunya sakit AIDS, jadi keluar masuk rumah sakit.” Kata tetangga mereka panjang lebar tanpa sedikitpun pertanyaan yang menjurus kesana.
“Ini gurunya Tiara ya!” tanyanya lagi.
“Iya, bu!”
“Ibu tahu kalo mamanya tiara itu pekerjaannya sebagai itu tuh, tuh…yang biasa menghibur laki-laki!”
“Ibu tahu tidak langganannya paling banyak?” Katanya lagi
Aku Cuma menggeleng dan terperangah, oh Tiara…. Begitu mulia cita-cita ibumu, ditengah kemelutnya kehidupan dunia malam, kau masukkan anakmu di sekolah Islam Terpadu agar terjaga kehormatannya, ditengah geliatnya kehidupan pramuria, kau masih berharap anakmu menjadi anak yang suci bersih tanpa noda, oh, begitu mulia hatimu. Sampai-sampai segala informasi yang disampaikan tetangga itu banyak yang terlewatkan, tak lagi masuk ditelingaku. Pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan yang aku sendiri tak dapat menjawabnya.
“Bu guru, Tiara itu kan bukan anaknya, itu anak pungut, bukan anak kandungnya.” Katanya sambil mencibir yang membuatku semakin terhenyak, sampai-sampai mulutku ternganga tak dapat menahan air liur menetes karena kaget dengan berbagai informasi yang bagai air mengalir deras menembus cakrawala berfikirku.
“Bu, maaf saya permisi, terima kasih infonya!”
Aku berlalu menuju motor, dengan dada yang sesak penuh kemelut pertanyaan, kusut masai pikiranku, terlintas wajah Tiara yang ayu, dengan kulit bersih putih laksana mutiara, lembut orangnya dengan senyumnya manis merekah, layaknya bunga yang mulai mengeluarkan kuncupnya. Tak terpikirkan olehku kalau Tiara adalah anak seorang pramuria dan bla-bla-bla…. Semakin laju kupacu kendaraanku berlomba melawan angin petang yang semakin membuat pikiranku terbang dan membayangkan andai aku berada di posisi Tiara.
****
Kabar duka ku dengar pagi itu, saat aku dan para guru baru selesai memasukan siswa-siswa ke dalam kelas setelah pelaksanaan sholat Dhuha, aku terduduk lemas. Segenap para guru berkumpul dan membicarakan kematian ibunya Tiara. Aku dan beberapa orang guru beserta kepala sekolah menuju Rumah Sakit, sesampai disana ternyata ibunya sudah dibawa ke ruang mayat, tak ada tetangga satu pun yang mau mayatnya disemayamkan, semua merasa jijik. Aku menangis, kucari sosok ayu nan belia dibalik kerumunan orang, dan kutemukan, oh anakku Tiara. Kupeluk dirinya dengan perasaan yang berkecamuk dan air mata berderai. Sedangkan Tiara begitu tegar, seakan dia begitu kuat dan kokoh. Seakan dia onggakan batu karang yang tak lekang dihempas ombak.
Laa yukallifullahu nafsan Illa wus’aha. Allah Maha Besar atas segala sesuatu. Tiara hamba yang lahir dari dunia hitam kelam, dan Engkau titipkan pada seorang yang memiliki hati mulia, dan engkau jaga dari kehidupan malam yang keras. Engkau berikan dia petunjuk untuk sekolah di sekolah kami, tanpa kami pun tahu latar belakangnya.
“Tiara, mau dikubur dimana nak ibu kamu ini?”
“Saya tidak tahu, bu!” sambil menggeleng lemas dengan tatapan kososng.
“Kamu Tenang ya, biar ibu dan Kepala sekolah yang mengurus semuanya!”
Alhamdulillah dari pihak Rumah Sakit mau mengurus mayatnya dan kami meminta masyarakat Kota Baru memberikan tempat terakhir untuk sang Mayyit. Mayyitpun dimandikan dan dikafankan di Rumah Sakit, setelah itu dengan ambulance dibawalah almarhumah untuk disholatkan di Masjid Kampung Baru dan di kuburkan di tempat pekuburan masyarakat, dengan hantaran dan cibiran para tetangga yang tak berperikemanusiaan.
***
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Tiara, malamnya ku ajak dia nginap di rumah bersama kami, diapun membawa sebagian pakaian sekolah  dan benda berharga, kemudian besoknya Tiara pun pergi ke sekolah bersamaku seakan tak terjadi apa-apa, dia tak mau larut dengan kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba serombongan tetangga Kos-Kosan Mawar datang teriak-teriak minta Tiara dikembalikan ke Kos Mawar, karena berbagai hutang yang ditinggalkan Almarhumah.
            Ku panggil Tiara dan kutanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tiara mengisahkan bahwa ibunya tak pernah berhutang, mungkin mereka yang berhutang. Kios depan jalan pun punya ibu, sejak ibu sakit diambil alih oleh mereka, Tiara tidak mengerti.
Ibu meninggalkan Tiara dokumen ini yang kata ibu dijaga baik-baik. Kata Tiara sembari menyodorkan sebuah tas yang berisi dokumen berharga. Sementara diluar, bapak kepala sekolah mengamankan mereka dan meminta mereka untuk berlalu, karena ini lembaga pendidikan. Tiara berhak mendapatkan perlindungan dari pihak sekolah sebagai orang tua kedua.
            Kubuka tas yag berisi dokumen tersebut, kutemukan akte kelahirannya, surat nikah, kartu keluarga dan KTP ibunya. Kubaca nama orang tuanya, kucocokkan wajah ayah ibu dan Tiara, tak kutemukan kemiripannya. Kubuka lagi dokumen yang lain, kutemukan dua buah surat kendaraan. Yang terdiri dari dua buah Mobil Avanza, dan dua sertifikat tanah yang berada di Kampung Baru. Satu buah handphone Nokia lama, dan sebuah Pet yang entah apa mereknya. Serta sebuah kotak perhiasan yang isinya akupun menggeleng-gelengkan kepala. Tak dapat kubayangkan harta sebanyak ini ditinggalkan kepada anak usia belia dan tak mengerti apa-apa.
“Tiara kamu istirahat dulu, biar ibu amankan dokumen ini ya?”
Aku keluar menemui kepala sekolah dan segenap guru. Keputusannya, aku dan guru BK harus mencari pengurus organisasi perlindungan anak. Selama masa pencarian, rumahku dan rumah kepala sekolah menjadi tampat sasaran amukan orang-orang yang meminta harta dan dokumen yang dipegang Tiara, mereka merasa kami telah mengmbil harta itu yang seharusnya dibagi kemeraka.
Segitu rendahnya kah orang-orang yang menginginkan harta anak yatim itu?, segitu biadapnya orang-orang yang hanya mengharapkan harta peninggalan dengan berdalih, bahwa mereka itu yang sudah berjasa dan membantu selama almarhumah sakit dan segala alasan yang menurutku sungguh sangat tidak masuk akal. Bukankah Allah sudah menjelaskan pada kita tidakkah kita menyaksikan orang-orang yang mendustakan agama Allah?
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (Qs. Al-Ma’un 1-3)

****
Alhamdulillah akhirnya kami serahkan Tiara ke perlindungan anak untuk diurus dan dijaga sampai usianya 17 tahun. Dan akhirnya semua teratasi, sampai Tiara mendapatkan ibu asuh yang lebih baik untuk masa depannya. Aku lega, namun yang membuatku terganjal adalah. Isi SMS yang sempat kubaca dalam inbox HP ibunya kemarin.
“Halo, manis?”
“Jangan lupa, titpanku Tiara… Jaga dia baik-baik ya, aku yang memintamu untuk menjaganya sampai suatu hari dia harus melayaniku sebagaimana kau melayani diriku”
“Camkan kata-kataku, jangan lupa titiapnku, ayam cantik yang lucu itu, yang sudah kuajak jalan-jalan kemana-mana!”
Terima kasih sudah menjaga kulitnya tetap mulus, putih bersih. Sudah kubayangkan waktunya nanti dia ada dipelukanku?”
****
Diambil dari kisah nyata salah seorang siswa kami yang kini duduk di kelas 9 SMP. Moga ia selalu dalam lindungan Allah SWT.













Profil Penulis
Nama saya  Nurhayati Hasan, biasa dipanggil dengan Kak Nuha, saya lahir di  Irian Jaya, 3 Januari 1977. Sekarang ini saya tinggal di  Kel. Jambula, Kec. Pulau Ternate Prov  Maluku Utara. Pekerjaan saya adalah Guru PAI di SMP Islam Terpadu Nurul Hasan  Kota Ternate, Status saya menikah dan Alhamdulillah dikaruniai dua putra dan satu putri. Saya pernah mengenyam Pendidikan dasar di SD Negeri 13 Kota Barat Propinsi Gorontalo kemudian melanjutkan studi di MTs Ponpes Alkhairat Ome Tidore, kemudian melanjutkan ke  SMA N 1 Tobelo Maluku Utara. Saya kuliah S1 di  IAIA Jakarta dan menyelesaiakn S2 di IAIN Ternate. Senang dengan dunia tulis menulis sejak masih duduk di sekolah dasar. Demi mempermudah silaturahim silahkan hubungi saya lewat email : namakunuha@gmail.comFB_IMG_1504228880292.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar