MUTIARA DIKUBANGAN LUMPUR KELAM
“Dubrak!!!!”
“Ugh, kenapa ini!”
Aku bingung melihat
seorang gadis belia jatuh terduduk lemas dari kursi kelasnya. Sedangkan aku
asik memeriksa hasil ulangan anak-anakku. Segera aku beranjak menuju
ketempatnya yang kini sudah penuh dikerumuni teman-temannya.
“Kenapa de, kamu
sakit?” tanyaku sembari memegang tengkuknya.
Ia hanya menggeleng
sambil menundukan wajahnya. Tampak kabut menyelimuti kehidupannya. Aku
penasaran, tapi tak bisa memahami apa yang ada dibalik kesenduannya.
“Ibu, Tiara sudah dua
hari tidak tidur malam, karena menjaga ibunya di rumah sakit!” Ujar Amirah
teman sebangkunya.
“Oh….kalo begitu Tiara,
kamu butuh istirahat sayang, mau pulang atau mau istirahat di kelas?”
“Dikelas aja bu,
soalnya setelah ini saya harus ke rumah sakit nemenin ibu saya!” Jawabnya
dengan suara tersekat.
“Ibumu di rawat di
Rumah Sakit mana? Dan sudah berapa lama dirawat, de?”
“Ibu sakit sudah hampir
tiga bulan, Rumah Sakitnya pindah-pindah bu, tapi sekarang ada di Rumah Sakit
Harapan Bunda.”
“Ruang apa, De?”
“Ruang Irna B, kamar nomor
delapan, bu”
“Baiklah,
kamu istirahat dulu ya!”
****
Kutelusuri
koridor Rumah Sakit Harapan Bunda, sambil berharap yang terbaik buat ibunya
Tiara. Nah, itu dia ruangannya, Irna B kamar nomor delapan. Ogh…. Ternyata satu
kamar pasiennya ada delapan tempat tidur dan semua terisi penuh. Tatapanku
menyapu seisi kamar dan kutemukan sosok yang aku cari, itu dia perempuan yang
pernah ikut rapat penerimaan Laporan Pendidikan beberapa bulan yang lalu.
Terlihat wajahnya tirus, badannya kurus ringkih. Pakaian yang dikenakannya
terlihat longgar besar dari tubuh itu. Kucoba mendekati tempat tidurnya yang
berada di sudut kanan kamar itu. Dia menatapku sambil mengernyitkan dahi
mencari tahu, dan ia pun terkejut.
“Ooh….bu guru!” berusaha bangkit dari
tempat tidurnya. Secepatnya aku mencegahnya.
“Jangan bangun bu,
kondisi ibu masi lemah, biar saya aja yang mendekat,”
“Tidak apa-apa bu,
sudah mendingan, maaf tadi pandangan saya agak kabur, sampai-sampai tak
mengenali ibu.” Ujarnya.
“Sendirian, bu?”
Tanyaku sembari duduk disamping bangsal tempat tidurnya.
“Ia bu guru, Tiara yang
mendampingi saya, saya ga punya keluarga disini, hanya berdua dengan Tiara.
Tiara selalu menemani saya selama saya sakit.” Jawabnya dengan suara serak.
“Disini tinggal
dimana?”
“Di Kos-kosan Mawar
Merah, Kota Baru. Saya sudah sering keluar masuk rumah sakit bu, ini yang
kesekian kalinya, saya merasa tak kuat, tapi saya masih memikirkan Tiara anak
saya.” Ujarnya sembari menunduk dan sedikit terbatuk-batuk.
“Ayahnya dimana bu?
Apakah Tiara tidak punya saudara?”
“Ayahnya sudah hampir
dua tahun tidak pernah kembali, kakaknya tugas di Jawa, tetapi saya tidak ingin
menyampaikan kabar ini ke mereka, biarlah seperti ini!” Jawabnya dengan suara
semakin serak dan terbatuk-batuk.
Melihat kondisinya aku
tak dapat bertanya lebih lanjut. Miris rasanya hati ini membayangkan Tiara yang
masih belia, masih duduk di bangku es em pe sudah mengalami tekanan hidup yang
begitu berat. Tak lama kemudian aku pamit.
“Titip Tiara, Bu Guru.
Saya berharap Tiara bisa terjaga dan hidup normal sebagaimana remaja lainnya.”
Katanya sambil memegang tanganku dengan linangan air di sudut matanya.
“Insya Allah, bu. Ibu
tenang dan berdoa, segera sembuh agar bisa kembali bersama Tiara lagi.” Jawabku
sambil menggenggam erat tangannya.
****
Sore itu, semburat
cahaya mega memerah kekuningan, kupacu si hijau motor beet yang selalu
menemaniku memburu waktu mengejar asa menyongsong masa depan remaja-remaja yang
haus kasih sayang. Kususuri Kota Baru tempat tinggal Tiara, kucari Kos-kosa
Mawar Merah dan ternyata, ia berada di lorong sempit, yang hanya bisa dijangkau
dengan berjalan kaki, dan cukup untuk satu pejalan kaki. Kumasuki lorong
tersebut sembari mengabaikan tatapan-tatapan selidik dari para penghuni
kos-kosan yang kulewati.
“Mau kemana bu?” ujar
salah seorang yang memberanikan diri bertanya penuh selidik.
“Mau ke Kos-kosan Mawar
Merah bu.”
“Mau cari siapa?”
“Mau cari tempat
tinggalnya Tiara, bu!”
“Ooh, paling ujung, bu.
Tetapi mereka tidak disini, karena ibunya sakit AIDS, jadi keluar masuk rumah
sakit.” Kata tetangga mereka panjang lebar tanpa sedikitpun pertanyaan yang
menjurus kesana.
“Ini gurunya Tiara ya!”
tanyanya lagi.
“Iya, bu!”
“Ibu tahu kalo mamanya
tiara itu pekerjaannya sebagai itu tuh, tuh…yang biasa menghibur laki-laki!”
“Ibu tahu tidak
langganannya paling banyak?” Katanya lagi
Aku Cuma menggeleng dan
terperangah, oh Tiara…. Begitu mulia cita-cita ibumu, ditengah kemelutnya
kehidupan dunia malam, kau masukkan anakmu di sekolah Islam Terpadu agar
terjaga kehormatannya, ditengah geliatnya kehidupan pramuria, kau masih
berharap anakmu menjadi anak yang suci bersih tanpa noda, oh, begitu mulia
hatimu. Sampai-sampai segala informasi yang disampaikan tetangga itu banyak
yang terlewatkan, tak lagi masuk ditelingaku. Pikiranku dipenuhi berbagai
pertanyaan yang aku sendiri tak dapat menjawabnya.
“Bu guru, Tiara itu kan
bukan anaknya, itu anak pungut, bukan anak kandungnya.” Katanya sambil mencibir
yang membuatku semakin terhenyak, sampai-sampai mulutku ternganga tak dapat menahan
air liur menetes karena kaget dengan berbagai informasi yang bagai air mengalir
deras menembus cakrawala berfikirku.
“Bu, maaf saya permisi,
terima kasih infonya!”
Aku berlalu menuju
motor, dengan dada yang sesak penuh kemelut pertanyaan, kusut masai pikiranku,
terlintas wajah Tiara yang ayu, dengan kulit bersih putih laksana mutiara,
lembut orangnya dengan senyumnya manis merekah, layaknya bunga yang mulai
mengeluarkan kuncupnya. Tak terpikirkan olehku kalau Tiara adalah anak seorang
pramuria dan bla-bla-bla…. Semakin laju kupacu kendaraanku berlomba melawan
angin petang yang semakin membuat pikiranku terbang dan membayangkan andai aku
berada di posisi Tiara.
****
Kabar duka ku dengar
pagi itu, saat aku dan para guru baru selesai memasukan siswa-siswa ke dalam
kelas setelah pelaksanaan sholat Dhuha, aku terduduk lemas. Segenap para guru
berkumpul dan membicarakan kematian ibunya Tiara. Aku dan beberapa orang guru
beserta kepala sekolah menuju Rumah Sakit, sesampai disana ternyata ibunya
sudah dibawa ke ruang mayat, tak ada tetangga satu pun yang mau mayatnya
disemayamkan, semua merasa jijik. Aku menangis, kucari sosok ayu nan belia
dibalik kerumunan orang, dan kutemukan, oh anakku Tiara. Kupeluk dirinya dengan
perasaan yang berkecamuk dan air mata berderai. Sedangkan Tiara begitu tegar,
seakan dia begitu kuat dan kokoh. Seakan dia onggakan batu karang yang tak
lekang dihempas ombak.
Laa yukallifullahu
nafsan Illa wus’aha. Allah Maha Besar atas segala sesuatu. Tiara hamba yang
lahir dari dunia hitam kelam, dan Engkau titipkan pada seorang yang memiliki
hati mulia, dan engkau jaga dari kehidupan malam yang keras. Engkau berikan dia
petunjuk untuk sekolah di sekolah kami, tanpa kami pun tahu latar belakangnya.
“Tiara, mau dikubur
dimana nak ibu kamu ini?”
“Saya tidak tahu, bu!”
sambil menggeleng lemas dengan tatapan kososng.
“Kamu Tenang ya, biar
ibu dan Kepala sekolah yang mengurus semuanya!”
Alhamdulillah dari
pihak Rumah Sakit mau mengurus mayatnya dan kami meminta masyarakat Kota Baru
memberikan tempat terakhir untuk sang Mayyit. Mayyitpun dimandikan dan
dikafankan di Rumah Sakit, setelah itu dengan ambulance dibawalah almarhumah untuk disholatkan di Masjid Kampung
Baru dan di kuburkan di tempat pekuburan masyarakat, dengan hantaran dan
cibiran para tetangga yang tak berperikemanusiaan.
***
Aku tak tahu apa yang
sebenarnya terjadi dengan Tiara, malamnya ku ajak dia nginap di rumah bersama
kami, diapun membawa sebagian pakaian sekolah
dan benda berharga, kemudian besoknya Tiara pun pergi ke sekolah
bersamaku seakan tak terjadi apa-apa, dia tak mau larut dengan kesedihan yang
mendalam. Tiba-tiba serombongan tetangga Kos-Kosan Mawar datang teriak-teriak
minta Tiara dikembalikan ke Kos Mawar, karena berbagai hutang yang ditinggalkan
Almarhumah.
Ku
panggil Tiara dan kutanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tiara mengisahkan
bahwa ibunya tak pernah berhutang, mungkin mereka yang berhutang. Kios depan
jalan pun punya ibu, sejak ibu sakit diambil alih oleh mereka, Tiara tidak
mengerti.
Ibu meninggalkan Tiara dokumen ini yang
kata ibu dijaga baik-baik. Kata Tiara sembari menyodorkan sebuah tas yang
berisi dokumen berharga. Sementara diluar, bapak kepala sekolah mengamankan
mereka dan meminta mereka untuk berlalu, karena ini lembaga pendidikan. Tiara
berhak mendapatkan perlindungan dari pihak sekolah sebagai orang tua kedua.
Kubuka
tas yag berisi dokumen tersebut, kutemukan akte kelahirannya, surat nikah,
kartu keluarga dan KTP ibunya. Kubaca nama orang tuanya, kucocokkan wajah ayah
ibu dan Tiara, tak kutemukan kemiripannya. Kubuka lagi dokumen yang lain,
kutemukan dua buah surat kendaraan. Yang terdiri dari dua buah Mobil Avanza, dan dua sertifikat tanah yang
berada di Kampung Baru. Satu buah handphone
Nokia lama, dan sebuah Pet yang entah apa mereknya. Serta sebuah kotak
perhiasan yang isinya akupun menggeleng-gelengkan kepala. Tak dapat kubayangkan
harta sebanyak ini ditinggalkan kepada anak usia belia dan tak mengerti
apa-apa.
“Tiara kamu istirahat dulu,
biar ibu amankan dokumen ini ya?”
Aku keluar menemui
kepala sekolah dan segenap guru. Keputusannya, aku dan guru BK harus mencari
pengurus organisasi perlindungan anak. Selama masa pencarian, rumahku dan rumah
kepala sekolah menjadi tampat sasaran amukan orang-orang yang meminta harta dan
dokumen yang dipegang Tiara, mereka merasa kami telah mengmbil harta itu yang
seharusnya dibagi kemeraka.
Segitu rendahnya kah
orang-orang yang menginginkan harta anak yatim itu?, segitu biadapnya
orang-orang yang hanya mengharapkan harta peninggalan dengan berdalih, bahwa
mereka itu yang sudah berjasa dan membantu selama almarhumah sakit dan segala
alasan yang menurutku sungguh sangat tidak masuk akal. Bukankah Allah sudah
menjelaskan pada kita tidakkah kita menyaksikan orang-orang yang mendustakan
agama Allah?
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka
itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan
orang miskin. (Qs. Al-Ma’un 1-3)
****
Alhamdulillah akhirnya
kami serahkan Tiara ke perlindungan anak untuk diurus dan dijaga sampai usianya
17 tahun. Dan akhirnya semua teratasi, sampai Tiara mendapatkan ibu asuh yang
lebih baik untuk masa depannya. Aku lega, namun yang membuatku terganjal
adalah. Isi SMS yang sempat kubaca dalam inbox HP ibunya kemarin.
“Halo, manis?”
“Jangan lupa, titpanku Tiara… Jaga dia
baik-baik ya, aku yang memintamu untuk menjaganya sampai suatu hari dia harus
melayaniku sebagaimana kau melayani diriku”
“Camkan kata-kataku, jangan lupa
titiapnku, ayam cantik yang lucu itu, yang sudah kuajak jalan-jalan
kemana-mana!”
Terima kasih sudah menjaga kulitnya tetap
mulus, putih bersih. Sudah kubayangkan waktunya nanti dia ada dipelukanku?”
****
Diambil
dari kisah nyata salah seorang siswa kami yang kini duduk di kelas 9 SMP. Moga
ia selalu dalam lindungan Allah SWT.
Profil
Penulis
Nama
saya Nurhayati Hasan, biasa dipanggil
dengan Kak Nuha, saya lahir di Irian
Jaya, 3 Januari 1977. Sekarang ini saya tinggal di Kel. Jambula, Kec. Pulau Ternate Prov Maluku Utara. Pekerjaan saya adalah Guru PAI
di SMP Islam Terpadu Nurul Hasan Kota
Ternate, Status saya menikah dan Alhamdulillah dikaruniai dua putra dan satu
putri. Saya pernah mengenyam Pendidikan dasar di SD Negeri 13 Kota Barat
Propinsi Gorontalo kemudian melanjutkan studi di MTs Ponpes Alkhairat Ome
Tidore, kemudian melanjutkan ke SMA N 1
Tobelo Maluku Utara. Saya kuliah S1 di
IAIA Jakarta dan menyelesaiakn S2 di IAIN Ternate. Senang dengan dunia
tulis menulis sejak masih duduk di sekolah dasar. Demi mempermudah silaturahim
silahkan hubungi saya lewat email : namakunuha@gmail.com