Kamis, 04 Oktober 2018

Wisata: Ternate destinasi wisata yang menyenangkan







Ternate destinasi wisata yang menyenangkan
By Nurhayati Hasan

                Jika kita berada diperantauan dan ditanya, anda dari mana? Dari Ternate. Ada yang langsung menjawab oooh Maluku ya. Sesungguhnya guys itu bukan satu kesalahan, karena dulu Ternate menyatu dengan Maluku. Dulu Ternate hanyalah salah satu kabupaten kecil dari Maluku. Setelah pemekaran Ternate sudah menjadi salah satu kabupaten kota yang dimiliki Propinsi Maluku Utara. Pulau kecil yang Nampak hanya berupa titik di Peta Indonesia ini tidak kalah indah dari daerah lainnya.
                Mungkin ketika kita ingin melihat Indahnya ciptaan sang Kreator sejati Allah SWT, Ternate bisa menjadi pilihannya guys. Kenapa tidak, karena disini hamparan laut terbentang luas dengan jejeran pulau-pulau kecil dan lingkaran pulau Halmahera yang indahnya tak terlukis dengan kata-kata. Kota Ternate sendiri berada dibawah kaki gunung Gamalama yang aktif, keindahan gunung Gamalama juga memberikan pesona tersendiri dengan Danau Tolire yang terkenal dengan cerita misterinya, Pantai Sulamadaha yang berhadapan dengan Pualau Hiri indahnya luar biasa.
                Jika kita beniat untuk berwisata di kota Ternate,  cukuplah sehari untuk dapat mengelilingi pulau kecil yang panjangnya sekitar 45 KM guys, tetapi  kita tidak akan puas dengan sehari mengelilinginya. Karena setiap sudut alamnya sayang sekali untuk dilewatkan tanpa mengabadikannya dengan kamera. Belum lagi keramahan masyaraknya yang sekali kenalan seakan sudah lama kita mengenalnya. Lidah ini tak bisa menyembunyikan kekaguman akan keindahan alam yang luar biasa, suraga dunia kata para turis asing yang datang melancong.

Lautnya jernih dengan terumbu karang dan ikan yang indah. Tidak hanya alam yang membuat kita takjub guys, makanannya juga dapat memanjakan lidah kita sehingga sulit bagi kita untuk sekedar datang dan berlalu. Pastinya sekali datang kita akan menjadwalkan ulang perjalanan yang kedua dan seterusnya. Ternate merupakan pintu pertama keindahan alam Maluku Utara. Setelah kita berada di Ternate, maka pasti kita akan penasaran untuk menjelajah daerah-daerah di sekitar pulau Ternate, untuk  menyingkap seberapa indah sih suguhan alam yang Allah berikan di kepulauan Maluku Utara. Yuk kita simak gambar-gambar berikut ini.

Rabu, 03 Oktober 2018

Galeri Anak Milenial





Ketakutan dengan CCTV mengingatkan kita pada pengawasan Allah


Ketakutan dengan CCTV mengingatkan kita pada pengawasan Allah
B
ernas.id. Setiap perusahaan atau perkantoran atau apa saja membutuhkan kinerja pegawai yang baik. Bukan hanya di perkantoran, di sekolah-sekolah pun banyak yang sudah memasang kamera CCTV. Tujuannya adalah untuk dapat mengontrol semua kegiatan pegawainya. Bahkan mungkin untuk mengetahui kecurangan dan keasalahan yang terjadi di kantor atau perusahaan. Semakin canggihnya kamera CCTV, seorang pimpinan mampu mengontrolnya hanya melalui handphone (hp) androidnya.
Tidak semua orang dapat bekerja dengan baik melalui pantauan kamera tersembunyi. Ada yang merasa tidak nyaman dengan pengawasan itu. Sampai-sampai ada yang stres, tidak senang dengan keadaan, merasa diawasi dan sulit konsentrasi. Sebenarnya kita tak perlu merasakan hal tersebut. Yuk kita ikuti tips nyaman kerja meski ada kamera yang selalu mengintai gerak-gerik kita.
  1. Bekerjalah dengan ikhlash dan niatkan sebagai ibadah. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW dalam buku hadits Arba’in karya Imam Nawawi Bab 1. Innamal a’maalu binniyaat. Bahwa setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Wainnama likullimri in Manawa. Dan tiap-tiap orang dilihat sebagaimana apa yang ia niatkan.
  2. Bekerjalah kamu karena sesungguhnya Allah dan Rasul serta orang-orang yang beriman diantara kamu yang akan menilai. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Attaubah : 105 yang artinya: Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

  1. Jadikanlah CCTV Allah Swt lebih canggih dari merek apapun. Dan pengawasan Allah bersifat hidden, tak terlihat. Yaitu Malaikat yang selalu mencatat amal kebaikannya di bahu kanan dan kiri, inilah CCTV tercanggih didunia.
Ada tiga bentuk pengawasan Allah SWT. Yang pertama adalah pengawasan langsung, kata Allah dalam Qs. Almujadilah:7 bahwasanya Allah teramat dekat dengan kita. Dan pada ayat yang lain Allah SWT menegaskan bahwa sesungguhnya Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Yang kedua Allah mengawasi kita melalui malaikat-Nya, sebagaimana arti dari Qs Al-Qaf: 17 berikut ini “ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” Dan yang ketiga Allah akan mengawasi kita melalui diri kita sendiri. Kenapa? Karena kita akan dimintai pertanggung jawaban apapun yang sudah kita lakukan selama kita berada dimuka bumi.
Untuk itu, marilah membiasakan diri bekerja sesuai tupoksi kita masing-masing, jangan takut jika bos kita memasang mata-mata atau yang lebih canggih dari semua itu. Jika kita sudah terbiasa dengan kerja profesional, insya Allah kita akan merasa nyaman meski tersorot kamera pengintai. Selamat mencoba!!!


Cerpen; MUTIARA DIKUBANGAN LUMPUR KELAM


MUTIARA DIKUBANGAN LUMPUR KELAM
“Dubrak!!!!”
“Ugh, kenapa ini!”
Aku bingung melihat seorang gadis belia jatuh terduduk lemas dari kursi kelasnya. Sedangkan aku asik memeriksa hasil ulangan anak-anakku. Segera aku beranjak menuju ketempatnya yang kini sudah penuh dikerumuni teman-temannya.
“Kenapa de, kamu sakit?” tanyaku sembari memegang tengkuknya.
Ia hanya menggeleng sambil menundukan wajahnya. Tampak kabut menyelimuti kehidupannya. Aku penasaran, tapi tak bisa memahami apa yang ada dibalik kesenduannya.
“Ibu, Tiara sudah dua hari tidak tidur malam, karena menjaga ibunya di rumah sakit!” Ujar Amirah teman sebangkunya.
“Oh….kalo begitu Tiara, kamu butuh istirahat sayang, mau pulang atau mau istirahat di kelas?”
“Dikelas aja bu, soalnya setelah ini saya harus ke rumah sakit nemenin ibu saya!” Jawabnya dengan suara tersekat.
“Ibumu di rawat di Rumah Sakit mana? Dan sudah berapa lama dirawat, de?”
“Ibu sakit sudah hampir tiga bulan, Rumah Sakitnya pindah-pindah bu, tapi sekarang ada di Rumah Sakit Harapan Bunda.”
“Ruang apa, De?”
“Ruang Irna B, kamar nomor delapan, bu”
“Baiklah, kamu istirahat dulu ya!”
****
Kutelusuri koridor Rumah Sakit Harapan Bunda, sambil berharap yang terbaik buat ibunya Tiara. Nah, itu dia ruangannya, Irna B kamar nomor delapan. Ogh…. Ternyata satu kamar pasiennya ada delapan tempat tidur dan semua terisi penuh. Tatapanku menyapu seisi kamar dan kutemukan sosok yang aku cari, itu dia perempuan yang pernah ikut rapat penerimaan Laporan Pendidikan beberapa bulan yang lalu. Terlihat wajahnya tirus, badannya kurus ringkih. Pakaian yang dikenakannya terlihat longgar besar dari tubuh itu. Kucoba mendekati tempat tidurnya yang berada di sudut kanan kamar itu. Dia menatapku sambil mengernyitkan dahi mencari tahu, dan ia pun terkejut.
            “Ooh….bu guru!” berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Secepatnya aku mencegahnya.
“Jangan bangun bu, kondisi ibu masi lemah, biar saya aja yang mendekat,”
“Tidak apa-apa bu, sudah mendingan, maaf tadi pandangan saya agak kabur, sampai-sampai tak mengenali ibu.” Ujarnya.
“Sendirian, bu?” Tanyaku sembari duduk disamping bangsal tempat tidurnya.
“Ia bu guru, Tiara yang mendampingi saya, saya ga punya keluarga disini, hanya berdua dengan Tiara. Tiara selalu menemani saya selama saya sakit.” Jawabnya dengan suara serak.
“Disini tinggal dimana?”
“Di Kos-kosan Mawar Merah, Kota Baru. Saya sudah sering keluar masuk rumah sakit bu, ini yang kesekian kalinya, saya merasa tak kuat, tapi saya masih memikirkan Tiara anak saya.” Ujarnya sembari menunduk dan sedikit terbatuk-batuk.
“Ayahnya dimana bu? Apakah Tiara tidak punya saudara?”
“Ayahnya sudah hampir dua tahun tidak pernah kembali, kakaknya tugas di Jawa, tetapi saya tidak ingin menyampaikan kabar ini ke mereka, biarlah seperti ini!” Jawabnya dengan suara semakin serak dan terbatuk-batuk.
Melihat kondisinya aku tak dapat bertanya lebih lanjut. Miris rasanya hati ini membayangkan Tiara yang masih belia, masih duduk di bangku es em pe sudah mengalami tekanan hidup yang begitu berat. Tak lama kemudian aku pamit.
“Titip Tiara, Bu Guru. Saya berharap Tiara bisa terjaga dan hidup normal sebagaimana remaja lainnya.” Katanya sambil memegang tanganku dengan linangan air  di sudut matanya.
“Insya Allah, bu. Ibu tenang dan berdoa, segera sembuh agar bisa kembali bersama Tiara lagi.” Jawabku sambil menggenggam erat tangannya.
****
Sore itu, semburat cahaya mega memerah kekuningan, kupacu si hijau motor beet yang selalu menemaniku memburu waktu mengejar asa menyongsong masa depan remaja-remaja yang haus kasih sayang. Kususuri Kota Baru tempat tinggal Tiara, kucari Kos-kosa Mawar Merah dan ternyata, ia berada di lorong sempit, yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki, dan cukup untuk satu pejalan kaki. Kumasuki lorong tersebut sembari mengabaikan tatapan-tatapan selidik dari para penghuni kos-kosan yang kulewati.
“Mau kemana bu?” ujar salah seorang yang memberanikan diri bertanya penuh selidik.
“Mau ke Kos-kosan Mawar Merah bu.”
“Mau cari siapa?”
“Mau cari tempat tinggalnya Tiara, bu!”
“Ooh, paling ujung, bu. Tetapi mereka tidak disini, karena ibunya sakit AIDS, jadi keluar masuk rumah sakit.” Kata tetangga mereka panjang lebar tanpa sedikitpun pertanyaan yang menjurus kesana.
“Ini gurunya Tiara ya!” tanyanya lagi.
“Iya, bu!”
“Ibu tahu kalo mamanya tiara itu pekerjaannya sebagai itu tuh, tuh…yang biasa menghibur laki-laki!”
“Ibu tahu tidak langganannya paling banyak?” Katanya lagi
Aku Cuma menggeleng dan terperangah, oh Tiara…. Begitu mulia cita-cita ibumu, ditengah kemelutnya kehidupan dunia malam, kau masukkan anakmu di sekolah Islam Terpadu agar terjaga kehormatannya, ditengah geliatnya kehidupan pramuria, kau masih berharap anakmu menjadi anak yang suci bersih tanpa noda, oh, begitu mulia hatimu. Sampai-sampai segala informasi yang disampaikan tetangga itu banyak yang terlewatkan, tak lagi masuk ditelingaku. Pikiranku dipenuhi berbagai pertanyaan yang aku sendiri tak dapat menjawabnya.
“Bu guru, Tiara itu kan bukan anaknya, itu anak pungut, bukan anak kandungnya.” Katanya sambil mencibir yang membuatku semakin terhenyak, sampai-sampai mulutku ternganga tak dapat menahan air liur menetes karena kaget dengan berbagai informasi yang bagai air mengalir deras menembus cakrawala berfikirku.
“Bu, maaf saya permisi, terima kasih infonya!”
Aku berlalu menuju motor, dengan dada yang sesak penuh kemelut pertanyaan, kusut masai pikiranku, terlintas wajah Tiara yang ayu, dengan kulit bersih putih laksana mutiara, lembut orangnya dengan senyumnya manis merekah, layaknya bunga yang mulai mengeluarkan kuncupnya. Tak terpikirkan olehku kalau Tiara adalah anak seorang pramuria dan bla-bla-bla…. Semakin laju kupacu kendaraanku berlomba melawan angin petang yang semakin membuat pikiranku terbang dan membayangkan andai aku berada di posisi Tiara.
****
Kabar duka ku dengar pagi itu, saat aku dan para guru baru selesai memasukan siswa-siswa ke dalam kelas setelah pelaksanaan sholat Dhuha, aku terduduk lemas. Segenap para guru berkumpul dan membicarakan kematian ibunya Tiara. Aku dan beberapa orang guru beserta kepala sekolah menuju Rumah Sakit, sesampai disana ternyata ibunya sudah dibawa ke ruang mayat, tak ada tetangga satu pun yang mau mayatnya disemayamkan, semua merasa jijik. Aku menangis, kucari sosok ayu nan belia dibalik kerumunan orang, dan kutemukan, oh anakku Tiara. Kupeluk dirinya dengan perasaan yang berkecamuk dan air mata berderai. Sedangkan Tiara begitu tegar, seakan dia begitu kuat dan kokoh. Seakan dia onggakan batu karang yang tak lekang dihempas ombak.
Laa yukallifullahu nafsan Illa wus’aha. Allah Maha Besar atas segala sesuatu. Tiara hamba yang lahir dari dunia hitam kelam, dan Engkau titipkan pada seorang yang memiliki hati mulia, dan engkau jaga dari kehidupan malam yang keras. Engkau berikan dia petunjuk untuk sekolah di sekolah kami, tanpa kami pun tahu latar belakangnya.
“Tiara, mau dikubur dimana nak ibu kamu ini?”
“Saya tidak tahu, bu!” sambil menggeleng lemas dengan tatapan kososng.
“Kamu Tenang ya, biar ibu dan Kepala sekolah yang mengurus semuanya!”
Alhamdulillah dari pihak Rumah Sakit mau mengurus mayatnya dan kami meminta masyarakat Kota Baru memberikan tempat terakhir untuk sang Mayyit. Mayyitpun dimandikan dan dikafankan di Rumah Sakit, setelah itu dengan ambulance dibawalah almarhumah untuk disholatkan di Masjid Kampung Baru dan di kuburkan di tempat pekuburan masyarakat, dengan hantaran dan cibiran para tetangga yang tak berperikemanusiaan.
***
Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Tiara, malamnya ku ajak dia nginap di rumah bersama kami, diapun membawa sebagian pakaian sekolah  dan benda berharga, kemudian besoknya Tiara pun pergi ke sekolah bersamaku seakan tak terjadi apa-apa, dia tak mau larut dengan kesedihan yang mendalam. Tiba-tiba serombongan tetangga Kos-Kosan Mawar datang teriak-teriak minta Tiara dikembalikan ke Kos Mawar, karena berbagai hutang yang ditinggalkan Almarhumah.
            Ku panggil Tiara dan kutanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tiara mengisahkan bahwa ibunya tak pernah berhutang, mungkin mereka yang berhutang. Kios depan jalan pun punya ibu, sejak ibu sakit diambil alih oleh mereka, Tiara tidak mengerti.
Ibu meninggalkan Tiara dokumen ini yang kata ibu dijaga baik-baik. Kata Tiara sembari menyodorkan sebuah tas yang berisi dokumen berharga. Sementara diluar, bapak kepala sekolah mengamankan mereka dan meminta mereka untuk berlalu, karena ini lembaga pendidikan. Tiara berhak mendapatkan perlindungan dari pihak sekolah sebagai orang tua kedua.
            Kubuka tas yag berisi dokumen tersebut, kutemukan akte kelahirannya, surat nikah, kartu keluarga dan KTP ibunya. Kubaca nama orang tuanya, kucocokkan wajah ayah ibu dan Tiara, tak kutemukan kemiripannya. Kubuka lagi dokumen yang lain, kutemukan dua buah surat kendaraan. Yang terdiri dari dua buah Mobil Avanza, dan dua sertifikat tanah yang berada di Kampung Baru. Satu buah handphone Nokia lama, dan sebuah Pet yang entah apa mereknya. Serta sebuah kotak perhiasan yang isinya akupun menggeleng-gelengkan kepala. Tak dapat kubayangkan harta sebanyak ini ditinggalkan kepada anak usia belia dan tak mengerti apa-apa.
“Tiara kamu istirahat dulu, biar ibu amankan dokumen ini ya?”
Aku keluar menemui kepala sekolah dan segenap guru. Keputusannya, aku dan guru BK harus mencari pengurus organisasi perlindungan anak. Selama masa pencarian, rumahku dan rumah kepala sekolah menjadi tampat sasaran amukan orang-orang yang meminta harta dan dokumen yang dipegang Tiara, mereka merasa kami telah mengmbil harta itu yang seharusnya dibagi kemeraka.
Segitu rendahnya kah orang-orang yang menginginkan harta anak yatim itu?, segitu biadapnya orang-orang yang hanya mengharapkan harta peninggalan dengan berdalih, bahwa mereka itu yang sudah berjasa dan membantu selama almarhumah sakit dan segala alasan yang menurutku sungguh sangat tidak masuk akal. Bukankah Allah sudah menjelaskan pada kita tidakkah kita menyaksikan orang-orang yang mendustakan agama Allah?
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. (Qs. Al-Ma’un 1-3)

****
Alhamdulillah akhirnya kami serahkan Tiara ke perlindungan anak untuk diurus dan dijaga sampai usianya 17 tahun. Dan akhirnya semua teratasi, sampai Tiara mendapatkan ibu asuh yang lebih baik untuk masa depannya. Aku lega, namun yang membuatku terganjal adalah. Isi SMS yang sempat kubaca dalam inbox HP ibunya kemarin.
“Halo, manis?”
“Jangan lupa, titpanku Tiara… Jaga dia baik-baik ya, aku yang memintamu untuk menjaganya sampai suatu hari dia harus melayaniku sebagaimana kau melayani diriku”
“Camkan kata-kataku, jangan lupa titiapnku, ayam cantik yang lucu itu, yang sudah kuajak jalan-jalan kemana-mana!”
Terima kasih sudah menjaga kulitnya tetap mulus, putih bersih. Sudah kubayangkan waktunya nanti dia ada dipelukanku?”
****
Diambil dari kisah nyata salah seorang siswa kami yang kini duduk di kelas 9 SMP. Moga ia selalu dalam lindungan Allah SWT.













Profil Penulis
Nama saya  Nurhayati Hasan, biasa dipanggil dengan Kak Nuha, saya lahir di  Irian Jaya, 3 Januari 1977. Sekarang ini saya tinggal di  Kel. Jambula, Kec. Pulau Ternate Prov  Maluku Utara. Pekerjaan saya adalah Guru PAI di SMP Islam Terpadu Nurul Hasan  Kota Ternate, Status saya menikah dan Alhamdulillah dikaruniai dua putra dan satu putri. Saya pernah mengenyam Pendidikan dasar di SD Negeri 13 Kota Barat Propinsi Gorontalo kemudian melanjutkan studi di MTs Ponpes Alkhairat Ome Tidore, kemudian melanjutkan ke  SMA N 1 Tobelo Maluku Utara. Saya kuliah S1 di  IAIA Jakarta dan menyelesaiakn S2 di IAIN Ternate. Senang dengan dunia tulis menulis sejak masih duduk di sekolah dasar. Demi mempermudah silaturahim silahkan hubungi saya lewat email : namakunuha@gmail.comFB_IMG_1504228880292.jpg

Menjemput generasi emas 2045


Menjemput generasi emas 2045
B
ernas.Id “Apa kabar, jeng?”
“Alhamdulillah apik, mbak!”
“Sudah menikah? Eh, berapa anak sampean sekarang?”
“Alhamdulillah, sudah mbak, anakku empat, yang besar baru kelas dua es em pe!”
“Wah…muantab, mbak… anak-anak sampean dibekali iman dan taqwa yo, persiapan jadi generasi emas nanti?”
                Sekelumit percakapan dua sahabat yang baru saja ketemu sejak berpisah  dua belas tahun silam ketika mereka sama-sama menyelesaiakan studi di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya. Reuni angkatan telah melahirkan suatu kerinduan dan cerita yang menarik untuk bisa disimak. Ada banyak hal perubahan yang dapat dilihat, baik dari fisik, usia, pertambahan anggota keluarga, status soasial, dan banyak lagi perubahan yang mendasar, yang terkadang membuat kita pangling dan terpesona.
                Temu alumni ini bukan sekedar pertemuan tanpa makna. Dengan pertemuan ini lahirlah diskusi-diskusi menantang, lahirlah ide-ide segar yang bisa menjadi jembatan penghantar silaturrahim yang dulu terputus oleh ruang dan waktu, kembali terjalin untuk masa depan karir dan keluarga. Bahkan mungkin terjalin kembali hubungan tanpa status oleh sebagian orang, karena sebab akibat ikatan bathin yang dulu pernah terajut.
                Seratus tujuh puluh orang hadir dengan perubahan status sosial yang berbeda-beda, ada yang sudah menjadi pengusaha, pejabat daerah, yang duduk di pemerintahan, dan lain sebagainya. Tetapi ada pula yang menjadi kuli tinta, security, drifer, ibu rumah tangga fenomenal, ibu rumah tangga biasa, pengusaha ketring, petani dan bahkan nelayan tambak yang baru berkarir. Pertemuan ini oleh sebagian besar melahirkan satu ide, membentuk ikatan keluarga alumni dalam mempersiapkan generasi emas ditahun 2045.
Wow, ternyata temu alumni kali ini sungguh sangat berkesan, tatkala salah seorang sahabat mengutarakan pertanyaan, sudah siapkah kita orang tua mengantarkan anak-anak menjemput generasi emas di tahun 2045? Bekal apakah yang akan kita berikan pada anak-anak agar mampu menjadi generasi emas nanti? Karena, jika kita tidak menyiapkannya sejak sekarang, kita tidak akan menyaksikan Indonesia emas di 2045 nanti, kita tidak akan mendapatkan Indonesia jaya di masa yang akan datang, kita hanya akan menyaksikan generasi kita adalah generasi lemah, lesu tanpa darah, tak ada semangat mengangkat kepala, yang ada mereka hanya sebagai generasi yang selalu tertunduk malu dan dipermalukan bangsa lain, dan hanya menjadi kuli bagi bangsa lain. Bagaimana cara kita agar lahir generasi yang akan memimpin bangsa ini baik dari pusat hingga kecamatan, bagaimana pemerintahan kita akan baik jika generasi kita saat ini dirangkul narkoba dan pergaulan bebas, siapa yang akan menguasai pertambangan, perkebunan, hutan dan laut kita, jika generasi kita saat ini tak lagi mau belajar dan hanya menghabiskan waktu dengan games dan komsumerisme? Yuk kita simak bersama tahapan persiapan dalam menyongsong Indonesia emas yang nantinya generasi kitalah yang akan mengisinya.
Tampilah beberapa teman yang berkecimpung dalam bidang pendidikan dan mengusulkan, bahwa paling baik adalah kita bekali generasi dengan pendidikan kepribadian yang mengutamakan proses pengembangan  dan pembentukan diri secara istimror  atau terus menerus (on going formation). Ada lagi yang mengusulkan, bahwa iman dan taqwanya harus tertanam dalam diri sejak dini. Dari teman yang berkecimpung dalam teknologi dan lain-lain pun menyarankan, jangan hanya pribadi dong, kecerdasan intelektualnya, emosinya juga harus diperhatikan, karena ini sumber kreatifitas dan inofasi suatu generasi emas kita.
Semakin larut diskusi itu berlanjut sampai pada proses jalinan ikatan generasi alumni yang akan diupayakan untuk upaya perencanaan beasiswa berprestasi dan beasiswa bagi generasi kreatif dan inofasi abad 21. Harapan demi harapan tertuang dan terucap dalam doa penutup pertemuan, semoga pertemuan ini menjadi awal pergerakan generasi kita menuju jembatan emas 2045.